SELAMAT DATANG & SELAMAT MEMBACA
NGURAH@SAINS'BLOG

Kamis, 26 November 2020

Tahapan BAGJA

 

PRAKARSA

PERUBAHAN

Upacara bendera yang berpihak pada murid dan dinantikan oleh seluruh warga sekolah

TAHAPAN

Pertanyaan

Daftar tindakan yang perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan

B-uat pertanyaan (Define)

Siapa Pembina upacaranya?

Apakah ada menyanyikan Mars Sekolah dan wajib belajar?

Siapa perangkat upacara

Pembina upacara dijadwalkan dari kepala sekolah, Waka, dan Guru guru

 

 Menyanyikan Mars Sekolah dan wajib belajar

 

 Kelas bergiliran yang perangkatnya ditunjuk oleh guru

A-mbil pelajaran (Discover)

Apakah perlu pembina upacara dari unsur Waka dan Guru

Apakah Perlu menyanyikan mars sekolah dan lagu wajib belajar?

Apakah perlu perangkat upacara tidak ditunjuk?

Kepala sekolah Waka dan Guru guru akan bergilir sebagai Pembina upacara

Sangat perlu agar tidak monoton dan guru punya kesempatan mengeksplorasi diri

Perlu agar siswa ingat akan Mars sekolahnhya dan wajib belajar

Tahu visi misi sekolahnya

 Perlu untuk menumbuhkan tanggung jawab dan siswa yang bahagia tanpa tekanan

G-ali mimpi (Dream)

Bagaimana Guru dapat menjadi pembina upacara?

Bagaimana pemilihan perangkat upacara?

Bagaimana lagu Mars sekolah an lagu wajib belajar ada dalam kegiatan Upacara?

 

Guru akan memperoleh Jadwal yang dibuat oleh kepala sekolah untuk menjadi pembina upacara

 

 

Siswa bergantian menjadi Perangkat upacara yang dikoordinir osis dengan mengedepankan minat siswa tanpa adanya tekanan

Diselipkan pada Susunan upacara setelah menyanyikan lagu wajib

 

J-abarkan rencana (Design)

Bagaimana penjabarannya?

 

Kepala Sekolah Waka dan Guru akan dibuatkan jadwal bergilir sebagai pembina upacara

Osis dan Ketua Kelas akan mencatat siswa yang akan menjadi Perangkat Upacara. Dan perangkat upacara ini harus berasal dari hati nuraninya sendiri tanpa paksaan atau tekanan

Mars dan Hymne sekolah akan dimasukkan ke dalam susunan upacara bendera dan diletakkan setelah menyanyikan lagu wajib nasional.

A-tur eksekusi (Deliver)

Kapan Mula dilaksanakannya

 

Kegiatan Upacara bendera ini akan dilaksanakan di semester 2 Tahun Pelajaran 2020/2021, Saat pembelajaran tatap muka sudah dapat dilaksanakan



Upacara biasanya

Upacara versi baru

Pembina Upacara hanya kepala sekolah dan waka saja

 

Pembina Upacara berasal dari Kepala Sekolah, Waka dan Guru Guru yang dibuatkan jadwal secara bergiliran

Perangkat upacara dari kelas yang dipilih wali kelas

Perangkat upacara dari kelas namun diberikan kebebasan kepada siswa yang ingin menjadi perangkat upacara tanpa adanya tekanan. Setelah itu barulah diadakan latihan sebelum kegiatan upacara

Mars sekolah dan wajib belajar tidak dimasukkan dalam susunan upacara bendera

Mars sekolah dan wajib belajar dimasukkan dalam susunan upacara bendera yag letaknya setelah menyanyikan lagu wajib nasional


Koneksi Antar Materi Modul 1.3

 

MENGAITKAN SEMUANYA DALAM RENCANA INKUIRI APRESIATIF
Manajemen perubahan yang menerapkan paradigma dan model inkuiri apresiatif untuk mewujudkan visi sekolah dalam tatanan Merdeka Belajar


Tugas Elaborasi Pemahaman 1.3.a.8

Pemahaman mengenai paradigma inkuiri apresiatif (IA)

Perubahan… merupakan sebuah kata yang kadang sulit untuk kita terima.

Hal yang tidak mudah untuk menjalankan sebuah perubahan positif yang ada di sekolah, karena suatu perubahan perlu adanya kerjasama oleh semua pihak, dan upaya yang konsisten. Melakukan perubahan budaya positif tentu memiliki tantangan. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia untuk terus melakukan inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang sedang dihadapi pada masa kini dan yang akan datang.

Mengelola suatu perubahan positif di sekolah tentu kita membutuhkan sebuah manajemen perubahan, dimana menajemen ini dilakukan dengan tahapan BAGJA yang menggunakan paradigma inkuiri apresiatif, yaitu pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan. Inkuiri apresiatif menggunakan prinsip psikologi positif dan prinsip pendidikan positif.

Inkuiri apresiatif adalah sebuah pendekatan kolaboratif untuk mengetahui kondisi sekolah

Melalui pendekatan inkuiri apresiatif yaitu, mengidentifikasi hal baik yang telah ada di sekolah, mencari cara agar bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, sehingga kelemahan, kekurangan dan ketiadaan menjadi tidak relevan. 

Berpijak dari hal positif tersebut, sekolah kemudian menyelaraskan hal positif atau kekuatan dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas sekolah.

Bagian mana dari IA yang berkaitan dua poin KHD yaitu kodrat alam dan kodrat jaman?

IA berorientasi pada perubahan ke  arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan kodrat jaman yang selalu berubah sepanjang waktu. Bahwa kodrat alam merupakan hak hak yang melekat pada manusia dalam hal ini murid, bahwa murid sudah sedemikian adanya mempunyai kemampuan daya pikir dan bertumbuh sesuai dengan kodratnya masing masing. Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

Bahwa pendidik hanya merancang, merawat dan menuntun untuk mengembangkan hal hal positif pada diri murid sesuai kodratnya yang kemudian disesuaikan dengan perkembangan jaman untuk bisa dijadikan sebuah kegiatan murid yang positif  inovatif sehingga murid bisa bertumbuh sesuai kodratnya

 Apa pemahaman kita atas peran pendidik dalam dua poin pikiran KHD tersebut?

Peran pendidik

  • bahwa tut wuri handayani ialah mengakui adanya pembawaan, bakat, ataupun potensi yang dimiliki anak yang dibawa sejak lahir. Dengan kata tut wuri pendidik diharapkan dapat melihat, menemukan dan memahami bakat atau potensi yang muncul dan terlihat pada anak didik untuk selanjutnya mengembangkan pertumbuhan yang sewajarnya dari potensi-potensi tersebut. Seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus memberikan dorongan semangat dan menunjukkan arah yang benar untuk anak didiknya. Dalam arti lain bahwa tut wuri handayani, seorang pendidik selalu mendukung dan menopang (mendorong) para muridnya berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat. Pendidik mengikuti para muridnya dari belakang, memberi kemerdekaan bergerak dan mempengaruhi mereka dengan kekuatannya
  • Dalam tut wuri terkandung maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya sementara guru memperhatikan. Dalam handayani berarti guru mempengaruhi peserta didik, dalam arti membimbing atau mengajar. Dengan demikian membimbing mengandung arti bersikap menentukan ke arah pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila, dan bukanlah mendikte peserta didik, apalagi memaksanya menurut kehendak sang pendidik.

Bagaimana kita memanfaatkan paradigma IA untuk mewujudkan dua poin KHD tersebut?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki, menginventarisasi daftar kegiatan positif atau kekuatan positif yang sudah berjalan yang terkait dengan pemikiran KHD tentang kodrat alam dan kodrat jaman tentang bagaimana sekolah mengembangkan potensi positif sesuai kodrat yang dibawa murid, setelah itu kita bisa terapkan tahapan BAGJA sampai dengan eksekusi program yang sejalan dengan visi sekolah.

 

 

                                                                                    Ketut Ngurah Artawan-CGP Karangasem

Minggu, 22 November 2020

Materi IPA








 





















Puisi Untuk Negeri

 













PUISI UNTUK NEGERI

 

MEWARNAI GENERASI

                                                                                     Buah karya: Ketut Ngurah Artawan

                                                                                     Link: https://youtu.be/Pa6jG6akLk4

 

Langkah kakimu mantap

Menyeruak di antara ruangan

Menatap tajam ke depan

Membawa segudang harapan

Untuk muridmu kelak yang berkarakter luhur

 

Suaramu lembut mengisi ruang hati setiap murid

Membimbing, melayani mereka

Berpaduu saling mengisi kekurangan

Berpacu saling menata kegembiraan

 

Tak pernah lelah mencoba

Tak pernah lelah menimba

Dengan satu harapan

Generasi bangsa bisa di depan

Dengan warna nilai nilai agama dan kemanuisaan

 

Semua yang dilakukan

Dengan konsep pelayanan, menghamba kepada murid

Tak pernah risau dengan cibiran

Yang ada hanya pengabdian

Agar murid bertumbuh sesuai kodrat Tuhan

 

Guru penggerak sebagai teladan

Memberikan contoh di depan

Guru penggerak selalu di tengah

Memberikan bimbingan dan tuntunan

Guru penggerak mendorong motivasi murid untuk berkembang

Dengan warna warna cemerlang

Agar tidak ditelan jaman

Koneksi Antar Materi (Artikel) Nilai Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Setiap manusia menjalani kehidupan yang sangat unik dan berbeda satu diantara yang lain sejak lahir sampai saat ini. Hal ini tentu membuat setiap orang memiliki nilai - nilai yang dipercaya, dianut dan dijalankan oleh seseorang, dan biasanya orang - orang yang memiliki nilai hidup yang sama, bergabung menjadi satu kesatuan akan membentuk sebuah team yang solid, kokoh dan berprestasi dalam hidup.

Kita bisa mengkaji lebih mendalam lagi melalui perenungan dan pemikiran pada diri kita sendiri tentang nilai nilai apa yang ada dalam diri. Harapan kita adalah untuk mendapat gambaran yang lebih banyak tentang hidup dan juga merefleksikannya kepada diri sendiri apakah nilai nilai kita sama dengan nilai nilai pada diri orang lain.  dan apabila berbeda, kita juga bisa renungkan mengapa kita meyakini hal tersebut dan kita meyakininya sebagai suatu pendangan yang berbeda. Nilai nilai yang muncul dalam diri merupakan gambaran penting tentang diri kita. Gambaran penting itu bisa digunakan sebagai bahan evaluasi dan introspeksi nilai nilai mana yang perlu ditumbuhkan dan dikembangkan.

Jika kita bicara tentang nilai moderasi agama merupakan proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang agar terhindar dari perilaku ekstrim atau berlebih lebihan saat mengimplementasikannya

Tujuan moderasi agama adalah untuk mengembalikan esensi ajaran agama yg sesungguhnya yaitu memanusiakan manusia.

Prinsip orang moderat adalah adil dan seimbang. Adil berarti menempatkan segala sesuatu padavtempatnya seraya melaksnaakan secara baik dan secepat mungkin. Berimbang berarti seallu berada di tengah dengan melakukan pengabdian kpd Tuhan dlm menjalankan ajaran Nya yg berorientasi pada upaya memuliakan manusia. Ada 3 hal dlm mengamalkan ajaran agama yaitu nilai kemanusiaan, kesepakatan bersama dan ketertiban umum.

Ciri seorang moderat, berilmu, mengendalikan emosi, berakhlak baik, pemaaf, menjadi teladan, berempati.

Moderasi beragama sebagai upaya mengembalikan pemahaman dan praktik beragama sesuai dengan eaensinya yakni utk menjaga harkat, martabat dan peradaban manusia. Moderasi beragama adalah bagian dari strategi bangsa dalam.merawat keberagaman Indonesia yang berbeda agama, etnis, bahasa, budaya. Moderasi beragama diyakini mampu menjadi strategi kebudayaan utk merawat jati diri Bangsa Indonesia.

Nilai nilai dalam diri yang terkait dengan peran kita sebagai guru penggerak harus kita gali, tumbuhkan dan kembangkan menjadi sebuah aksi nyata dalam lingkungan pendidikan. Adapun nilai nilai tersebut merupakan nilai yang sudah ada sejak lahir seperti nilai nilai moderasi beragama, nilai nilai kemanusiaan, nilai kepercayaan, nilai tidak mudah menyerah, nilai kepemimpinan, nilai pembaharuan dan masih banyak lagi. Nilai nilai ini banyak yang tidak muncul ke permukaan, seperti fenomena gunung es, bahwa yang muncul di permukaan laut hanya 20%, sisanya terpendam, tak terlihat. Tantangan bagi kita sekarang adalah memunculkan nilai nilai positif tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan, dalam hal ini bagi perkembangan dunia pendidikan.

Pada dasarnya kita terus berpacu dengan perkembangan dunia dalam segala aspeknya. Termasuk salah satunya adalah perkembangan teknologi di dunia pendidikan tanpa batas. Sebagai guru penggerak, kita harus lebih cepat selangkah jika kita tidak ingin tertinggal. Otak luhur manusia dan otak primatalah yang memegang peran dalam mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi pendidikan.

Seperti yang sudah disampaikan oleh Mendikbud RI dengan program guru penggerak bahwa, Guru penggerak harus memiliki karakter dari guru yang baik, punya kemauan memimpin, berinovasi dan melakukan perubahan. “Mereka harus mampu mendorong tumbuh kembang murid, tidak hanya di kelasnya melainkan di kelas-kelas lain

guru penggerak adalah guru yang tidak hanya memiliki karakteristik yang dimiliki oleh guru baik, tapi juga memiliki karakteristik yang lain yakni mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, yakni mampu membentuk siswa menjadi Pelajar Pancasila, mampu menjadi pelatih atau mentor bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat kepada murid serta mampu menjadi teladan dan agen transformasi bagi ekosistem pendidikan.

Dengan karakteristik tersebut maka guru penggerak akan menjadi lilin dan obor perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sebab kehadiran mereka akan memberikan dampak yang luar biasa tidak hanya kepada guru-guru yang lain, tapi juga akan memberikan dampak terhadap sekolah serta mampu menjadi perubahan di masing-masing unit pendidikannnya, bahkan di luar unit pendidikannya.

Seorang guru penggerak akan keluar dan termotivasi untuk menjadi mentor bagi guru-guru lain, di dalam sekolah bahkan di luar sekolah. “Mereka adalah agen perubahan di dalam ekosistem pendidikan. Selain itu, guru penggerak nantinya akan terus menciptakan dan mengawal pencapaian profil pelajar Pancasila yang merupakan tujuan dari Merdeka Belajar, yang mempunyai enam sifat. Pertama, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Kedua, kreatif dalam berkarya, menemukan jalan-jalan yang tidak konvensional, beradaptasi terhadap perubahan dan selalu senantiasa berinovasi. Ketiga, bergotong royong, yaitu kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama sebagai satu tim dan ini akan menjadi kompetensi terpenting di dunia kerja masa depan. Keempat, Kebhinekaan, yaitu mencintai keberagaman nasional, mempunyai spirit nasionalisme yang tinggi dan mencintai sesama.

Kelima, kemampuan bernalar kritis, yaitu mampu memecahkan permasalahan, mampu berpikir secara kritis, mengolah informasi secara kritis, dan mampu berpikir secara terstruktur dan kuantitatif.

Nilai nilai yang perlu ditumbuhkan pada diri guru penggerak adalah 5 poin penting yaitu Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif dan Berpihak kepada murid.

Dampak positif bagi murid dengan adanya guru penggerak ini adalah bahwa  murid akan merasa nyaman dalam setiap proses pembelajaran, konsep merdeka belajar bagi murid tidak hanya sekedar slogan, tetapi sebuah keniscayaan yang harus terjadi. rasa hormat murid kepada guru adalah berasal dari keteladanan guru, yang pada akhirnya melahirkan murid yang berbudi pekerti luhur

Kekuatan kekuatan pada diri guru penggerak merupakan modal utama dalam menggerakkan komunitas pendidikan seperti rasa percaya diri, mandiri, reflektif, tidak mudah menyerah, mampu mengembangkan diri dan orang lain dan tentunya komitmen dan keteladan merupakan sesuatu yang tak mungkin diabaikan.

Kontribusi nyata dalam menyediakan pembelajaran yang bermakna bagi murid adalah bahwa semua tindakan kea rah perubahan dan perbaikan menjadi sebuah fakta seperti pelayanan yang tulus kepada murid kapanpun dan dimanapun dengan memberikan yang terbaik bagi murid. Memberikan pembelajaran bermakna yang betul betul bermanfaat bagi kehidupannya dan masa depannya.

 

                                                Ketut Ngurah Artawan: CGP-Karangasem-Bali

Selasa, 10 November 2020

Media Informasi Pemikiran KHD

 


Refleksi Eksplorasi Pemikiran KHD 4f

 

4f

Peristiwa (Facts): paparan obyektif berdasarkan pengalaman nyata atas apa yang sejauh ini telah dipelajari atau dialami dalam Modul 1.2 hingga PEMBELAJARAN 2

Bahwa materi pada 1.2 menjelaskan tentang nilai yang harus dibentuk pada murid dengan menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya nilai nilai baik murid. Guru harus menjadi teladan. Untuk menjadi teladan, guru harus mempunyai nilai nilai yang bisa dicontoh murid. Termasuk bagaimana cara berpikir positif dan maju berdasarkan teori Kehneman tentang cara berpikir cepaat dan lambat. Kemudian bagaimana mengimplementasikannya didalam diri , ke murid dan ke lingkungan sekolah

Perasaan (Feelings): apa yang dirasakan kini setelah mengikuti semua proses dalam Modul 1.2 sejauh ini

Saya merasa sadar bahwa kemampuan diri harus terus dikembangkan untuk memunculkan nilai postif lebihh banyak dibandingkan negatif, untuk mengurangi fenomena gunung es. Demikian juga saya harus lebih cepat bergerak maju ketimbang perjalanan waktu.

Pembelajaran (Findings): apa hal paling konkrit yang dapat diambil sebagai pembelajaran dan mungkin telah membawa makna baru atas apa yang dipahami sebelum mengikuti Modul 1.2.

yang paling konkrit adalah terkait fenomena gunung es, harus diusahakan persentase nilai nilai baik lebih banyak dimunculkan, demikian juga sisi kolaboratif dan inovatif dari guru harus lebih cepat berkembang dibandingkan yang lain

Penerapan ke depan (Future): apa hal yang dapat segera diterapkan baik sebagai individu maupun sebagai calon guru penggerak setelah PEMBELAJARAN 2 ini

Menanamkan nilai nilai positif yang lebihh banyak untuk bisa sebagai teladan bagi murid, memacu semangat untuk berkembang agar kualitas dirri di bidang pendidikan tidak dikalahkan waktu

 

 

Intisari pemikiran KHD tentang pendidikan

 

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya. D5i mata Ki Hajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyat. Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan; kita harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tentram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas.  Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Seorang pendidik harus bisa menghamba kepada peserta didik agar pendidikan tersebut mencapai tujuan yang diharapkan dengan apa, dengan 3 pilar motto yaitu ing ngarso sung tolodo, ing madya mangun karso dn tut wuri handayani

Ceritakan proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KH Dewantara?

Proses belajar dalam kelas ya
ng mencerminkan pemikiran Kihajar Dewantara adalah proses belajar yang bisa menempatkan peserta didik sebagai teman, sebagai hamba, sebagai sahabat baik, sebagai orang yang mempunyai potensi diri dimana semua langkah yang dirancang dan dilaksanakan di kelas berpihak pada peserta didik,

Apa yang akan lakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD dapat terwujud?

Menghargai bahwa setiap peserta didik adalah individu yang unik yang mempunyai kemampuan berbeda beda, menghargai setiap pendapat yang disampaikan dalam pembelajaran oleh peserta didik, menerapkan proses diskusi untuk mengambil kesepakatan tentang tata tertib pembelajaran, mendorong peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya dalam setiap kesempatan.seperti presentasi di depan kelas, sebagai pemimpin organisasi sekolah, sebagai pengurus kelas, sebagai pengelola kegiatan dll

Dari konsep pemikiran KHD tersebut, mana yang sudah Anda terapkan?

Banyak sebenarnya yang sudah diterapkan tapi belum maksimal, seperti dalam organisasi osis, dalam proses diskusi kelas, dalam proses pemilihan ketua kelas, dalam pemilihan ketua osis, kita tetap menerapkan ing ngarso sung tilodo, ing maya mangun karsa tut wuri handayani

Pemaknaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara memang memiliki kekhasan. Meski ia mengakui belajar metode ala Montessori dan Frobel, ia punya gagasan sendiri dalam hal pendidikan. Ki Hajar Dewantara menganggap pendidikan memiliki tiga kata kunci pokok yakni kemerdekaan, kebebasan, dan kemandirian. Ketiga konsep pokok ini melahirkan konsep nasionalisme dan kebudayaan. Gagasan nasionalisme diambil karena Ki Hajar faham meski bangsa kita begitu majemuk, ia memerlukan persatuan dan kesatuan yang membawa kepada keselarasan serta kedamaian. Bicara soal kedamaian, kata ini merupakan salah satu asas pendidikan dalam taman siswa.

Sedangkan mengapa memakai konsep kebudayaan dalam pendidikan?. Ki Hajar tak ingin menjadi manusia yang lupa daratan. Ia memang pernah diasingkan ke negeri Belanda. Disana ia memang mempelajari ilmu pendidikan di negara manca, tapi ia sadar bahwa bagaimanapun juga pendidikan tak boleh melepaskan diri dari akarnya, dari sumbernya, dari jati dirinya. Seorang yang sudah berpendidikan tak boleh lupa bahwa ia dibesarkan oleh adat, tata krama, etika, serta nilai-nilai dari sebuah masyarakat di sekitarnya. Singkat kata, pendidikan perlu dibarengi oleh kebudayaan dalam perkembangannya.

Rupanya Ki Hajar Dewantara tak melihat di masa itu semata, tetapi juga melihat di masa-masa mendatang. Di bukunya Taman Indrya, ia mengurai bahwa Duludidjaman Belanda tak ada orang berfikir memasukkan permainan kanak2 itu di dalam daftar-daftar peladjaran sekolah rakjat kepunjaan pemerintah. Di HIS diberikan permainan2, sajang hanja Hollandsche Kinderpelletjes, jang tak berarti sedikitpun bagi perkembangan rasa kebangsaan di hati-sanubari kanak2 kita (dan djauh lebih rendah nilai kebudajaannja daripada dolanan anak bangsa kita). Dulu, di HIS anak-anak kita tidak boleh diberi peladjaran lagu2 dari bangsanja sendiri, misalnja tembang macapat, tembang gending dll. Njanjian jang mereka dapat ialah njanjian2 Belanda (h.27).

Apa yang dilihat Ki Hajar pun kini benar adanya. Ketika semakin menghilangnya nyanyian-nyanyian daerah, tembang macapat maupun tembang kebudayaan daerah sudah kian menghilang dari sekolah. Guru dan kanak2 kita tak semakin mengenali kebudayaannya sendiri. Kesenian gamelan seolah menjadi milik sekolah-sekolah tertentu semata. Padahal, dahulu pelajaran itu akrab dengan sekolah-sekolah di masa lalu. Bukan hanya karena pentingnya nilai budaya nyanyian-nyanyian serta musik daerah itu, tetapi juga karena sudah menjadi nafas dalam keseharian kita. Seni dan lagu daerah, dulu memang sudah menjadi bagian dari kebudayaan kita

Akan tetapi karena tak diwariskan dan diajarkan turun-temurun, maka anak-anak kita semakin tak mengenali kesenian dan kebudayaannya sendiri. Inilah konsep yang menurut saya penting dari pendidikan ala Ki Hajar Dewantara. Ia tak melepaskan kebudayaan sebagai bagian penting dari pendidikan nasional kita.

 

Dalam hal pendidikan, Ki Hajar Dewantara tak terlampau berpusing ria dengan urusan kognitif dan angka-angka. KHD lebih cenderung memikirkan bagaimana perkembangan jiwa dan pikiran anak. Karena itulah, ia mengambil konsep dan nama pendidikan yang ia canangkan bukan scul atau sekolah, tetapi lebih memakai nama taman. Taman siswa ingin menjadi ruang pendidikan yang kuturil dan nasional ( 1959 : 15).

Di masa-masa awal utamanya di anak usia dini, ketika di taman kanak-kanak, KHD berpendapat bahwa mereka masih berada dalam tahapan melatih pantja-indera. Karena itulah, pelajaran-pelajaran yang didapat di taman kanak-kanak bukanlah pelajaran yang serius. Anak-anak lebih diajak untuk menggiatkan tangan, kaki serta jiwa mereka, bukan pikiran mereka. Mereka anak-anak dilatih untuk mengenali tubuh dan fungsinya dengan baik utamanya adalah panca indera mereka.

Maka tak salah kalau taman siswa sering sekali mengadakan kegiatan kriya yang melibatkan tangan seperti membuat janur, membuat pincuk, yang bukan hanya bahannya dari alam, tetapi sering terjadi dalam keseharian kita. Manfaatnya makin jelas bahwa bukan hanya pikiran yang dilatih, serta fisik tangan dan kaki kita yang digerakkan, tetapi juga jiwa kita menginsafi bahwa pada kegiatan kriya kita, ada kebudayaan dan warisan kulturil bangsa kita.

Di sisi lain, taman siswa bukanlah lembaga pendidikan yang bernafaskan kolonial, tetapi nasional. Selain berbeda dari pendidikan kolonialisme dari segi materinya. Taman siswa adalah pendidikan yang menghindarkan diri dari pendektean, otoritarianisme, serta pendidikan ala militer. Taman siswa lebih mirip pendidikan yang berbasis kultural, bebas, serta membebaskan. Bukan hanya belajar senang, tetapi juga senang belajar. Istilahnya taman siswa adalah lembaga perguruan yang menghindari perintah dan ancaman dalam sistem pendidikannya. Bila melihat karakteristik ini, kita menduga pendidikan taman siswa benar-benar menerapkan pendidikan berbasis terbangunnya kesadaran.

Di buku Taman Indrya (1959) inilah,  kita bakal disuguhi bukan hanya model atau kurikulum di taman kanak-kanak, tetapi juga bisa lebih rinci bagaimana gagasan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang tak hanya mengarusutamakan proses, bukan hasil. Ki Hajar lebih condong pada pendidikan yang membebaskan bukan disiplin otoriter. Ia lebih memilih pendidikan yang menyenangkan, serta membuat jiwa anak makin bebas dan merdeka.

Hal Hal positif dari pemikiran KHD

 


1.      manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dihubungan dengan budaya di daerah bali adalah anak anak dilatih juga dalam membuat segala jenis ketupat (tipat nasi, tipat sirikan, tipat kedis, tipat gong, tipat panggul) dilatih tidak hanya intelektual saja, tetapi cipta karsa dan karya. Dalam pembuatan ketupat tersebut ada proses penciptaan, ada kemauan da nada hasil karya

2.      Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik, mental dan kerohanian. Namun kemerdekaan pribadi ini dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi, tanggungjawab dan disiplin.

Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri; setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain.

3.      Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh

Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang.

4.      Seorang pendidik harus bisa menghamba kepada peserta didik agar pendidikan tersebut mencapai tujuan yang diharapkan dengan konsep melayani peserta didik dengan 3 semboyan yaitu ing ngarso sung tolodo, ing madya mangun karso dn tut wuri handayani

Memaparkan penerapan ide/gagasan positif

Salah satu gagasan positifnya adalah bahwa peserta didik memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya

MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS

ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 3.3 MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS