Rabu, 24 Februari 2021
Senin, 15 Februari 2021
Rabu, 10 Februari 2021
Senin, 08 Februari 2021
Refleksi Modul 2.1
“Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia. Refleksi tanpa
belajar itu berbahaya.”
(Confucius)
Bahan
renungan sebelum refleksi
· Praktek
pembelajaran berdiferensiasi akan lebih efektif apabila kita mulai dengan
pemetaan murid yang akurat berdasarkan minat, kesiapan belajar dan profil
belajar murid. Berdasarkan data itu kita buatkan rencana pembelajaran yang
sesuai hasil pemetaan, dengan strategi diferensiasi konten, proses atau produk.
Perencanaan strategi juga harus disesuaikan dengan materi apakah konten proses
atau produk. Praktek pembelajaran berdiferensiasi disosialisasikan terlebih
dahulu ke murid sehingga persiapannya benar benar matang dan terencana.
· Pendekatan
yang seharusnya saya ubahsuaikan adalah pendekatan pembelajaran berdiferensiasi
yang berpihak pada murid seperti diferensiasi konten diferensiasi proses dan
diferensiasi produk, disesuaikan dengan tingkat kesiapan murid.
· Sikap
positif sangat diperlukan meskipun banyak tantangan dalam penerapan
pembelajaran berdiferensiasi. Hal ini bisa dilakukan dengan terus bergerak maju
dengan ide ide positif dan budaya positif diri mengimplementasikan semua ilmu
yang diperoleh sehingga hasil nyata dapat dilihat oleh teman teman sejawat
lainnya.
1. Materi
yang menurut saya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan
pembelajaran di kelas adalah pembelajaran berdiferensiasi karena
penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan mengakomodasi kebutuhan belajar setiap
murid yang berbeda beda. Inii bisa menjadi solusi pembelajaran untuk memecahkan
berbagai permasalahan belajar.
2. Yang
sulit untuk diterapkan menurut saya adalah membuat persiapan pengembangan materi
jika kita ingin menerapkan diferensiasi konten, seberapa materi standard dan sebarapa
materi pengembangan. Karena kita harus tahu seberapa berkembangya wawasan
murid, seberapa kritisnya pola pikir murid dan seberapa pahamnya mereka dengan
materi.
3. Jika
saya harus menerapkan hal yang sulit tersebut, saya memerlukan dukungan penuh dari
semua pihak seperti dari teman sejawat untuk bersama sama menganalisis hasil
pemetaan belajar murid, dukungan dari kepala sekolah untuk bisa mengkondisikan
teman teman sejawat dalam rangka mendukung implementasi pembelajaran
berdiferensiasi dan dukungan dari orang tua murid dalam mendampingi anak
anaknya.
4. Jika
saya menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar murid saya tidak dapat
diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi maka saya akan mengambil resiko
untuk memodifikasi pembelajaran sesuai dengan pertimbangan situasi dan kondisi kelas,
kondisi psikologis murid, kondisi media yang mendukung dan lain sebagainya. Hal
ini dilakukan untuk bisa memaksimalkan pelayanan terhadap murid dengan berbagai
latar belakang minat, gaya belajar dan kesiapan belajarnya, sehingga semua
murid bisa terpenuhi kebutuhan belajarnya.
Jumat, 05 Februari 2021
Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek tersebut adalah:
1.
Kesiapan
belajar (readiness) murid
2.
Minat
murid
3.
Profil
belajar murid
Sebagai
guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih
baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman
yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas
tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan
jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang
mereka sukai (profil belajar).
1.
KESIAPAN BELAJAR (READINESS)
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar
kata “Kesiapan Belajar”?
Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar
(readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang
mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona
nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang
memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.
Ada
banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001) mengatakan bahwa
merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol
equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara
terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih
dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai
kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis
kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda.
Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif
kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam
modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif
kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang
diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).
A. Bersifat mendasar - Bersifat
transformatif
Saat
sebagian murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, atau jika ide itu bukan di
salah satu bidang yang dikuasai oleh murid, mereka sering membutuhkan informasi
pendukung yang lebih jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk memahami
ide tersebut. Mereka akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide secara
langsung. Jika murid berada dalam tingkatan ini, maka bahan-bahan materi yang
mereka gunakan dan tugas-tugas yang mereka lakukan harus bersifat mendasar dan
disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan pemahaman yang
kuat. Di lain waktu, ketika murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka
pahami atau berada di area yang menjadi kekuatan mereka, maka dibutuhkan
informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana
ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru.
Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih bersifat
transformatif.
B. Konkret - Abstrak
Di
lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan
melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau
sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak
C. Sederhana - Kompleks
Beberapa
murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi
pada satu waktu; yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi.
D. Terstruktur - Open Ended
Kadang-kadang
murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di
mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di
waktu lain, murid siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.
E. Tergantung (dependent) - Mandiri
(Independent)
Walaupun
pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir
dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan,
mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain.
Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih
awal daripada yang lain.
F. Lambat - Cepat
Beberapa
murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu
bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang.
Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak
waktu daripada yang lain untuk mempelajari sebuah topik.
The Equalizer (Tomlinson)
Perlu diingat bahwa kesiapan belajar
murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada
informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat
ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Adapun
tujuan melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan
belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran,
sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas,
Simonette & Ramsook, 2013).
2. MINAT MURID
Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat
sendiri. Ada murid yang minat nya sangat besar dalam bidang seni, matematika,
sains, drama, memasak, dsb. Minat adalah salah satu motivator penting
bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson
(2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang
pembelajaran memiliki tujuan diantaranya:
· Membantu murid menyadari
bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
· Menunjukkan
keterhubungan antara semua pembelajaran;
· Menggunakan
keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk
mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka,
dan;
· Meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
Sepanjang
tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda.
Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan"
murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid
tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.
Ide Minat Belajar
Beberapa ide
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan minat diantaranya
misalnya:
· Meminta
murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan
menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari.
· Menggunakan
teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.
· Menggunakan
strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.
· Membuat
kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah
keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih
profesi yang sesuai minat mereka.
· Membuat
model.
3. PROFIL BELAJAR MURID
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya,
kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan
berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett,
2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk
belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar
belakang, jenis kelamin, dll.
Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar
murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada
murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru,
kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang
sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap
anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat
penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.
Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil.
Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi
pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:
·
Lingkungan:
suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
·
Pengaruh
Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
·
Visual:
belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik
organisator).
·
Auditori:
belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
· Kinestetik:
belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands
on, dsb).
Berdasarkan
pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid,
maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan
tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS
ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 3.3 MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS
