SELAMAT DATANG & SELAMAT MEMBACA
NGURAH@SAINS'BLOG

Rabu, 17 Maret 2021

Praktik Coaching Model TIRTA oleh Coach: Ketut Ngurah Artawan, Coachee: Ni Luh Putu Agustini

TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya. 

Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching.  Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA, guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah.

TIRTA kepanjangan dari

T: Tujuan
I: Identifikasi
R: Rencana aksi
TA: Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan.

 

T: Tujuan

1. Apa rencana pertemuan ini?

2. Apa tujuan dari pertemuan ini?

3. Apakah ukuran keberhasilan dari pertemuan ini?

I: Identifikasi

1. kesempatan apa yang kamu miliki sekarang?

2. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan?

3. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?

R: Rencana Aksi

1. Apa rencana kamu untuk mencapai tujuan itu?

2. Apa strategi untuk itu?

3. bagaimana jangka waktunya?

4. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?

TA: Tanggung Jawab

1. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi?

2. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?

  Berikut adalah rekaman video praktik coaching pada komunitas praktisi cgp

Senin, 08 Februari 2021

Refleksi Modul 2.1

“Belajar tanpa refleksi adalah sia-sia. Refleksi tanpa belajar itu berbahaya.”     

(Confucius)


Bahan renungan sebelum refleksi

·     Praktek pembelajaran berdiferensiasi akan lebih efektif apabila kita mulai dengan pemetaan murid yang akurat berdasarkan minat, kesiapan belajar dan profil belajar murid. Berdasarkan data itu kita buatkan rencana pembelajaran yang sesuai hasil pemetaan, dengan strategi diferensiasi konten, proses atau produk. Perencanaan strategi juga harus disesuaikan dengan materi apakah konten proses atau produk. Praktek pembelajaran berdiferensiasi disosialisasikan terlebih dahulu ke murid sehingga persiapannya benar benar matang dan terencana.

·    Pendekatan yang seharusnya saya ubahsuaikan adalah pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid seperti diferensiasi konten diferensiasi proses dan diferensiasi produk, disesuaikan dengan tingkat kesiapan murid.

·  Sikap positif sangat diperlukan meskipun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Hal ini bisa dilakukan dengan terus bergerak maju dengan ide ide positif dan budaya positif diri mengimplementasikan semua ilmu yang diperoleh sehingga hasil nyata dapat dilihat oleh teman teman sejawat lainnya.

 


1. Materi yang menurut saya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran  di kelas adalah pembelajaran berdiferensiasi karena penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan mengakomodasi kebutuhan belajar setiap murid yang berbeda beda. Inii bisa menjadi solusi pembelajaran untuk memecahkan berbagai permasalahan belajar.

2.    Yang sulit untuk diterapkan menurut saya adalah membuat persiapan pengembangan materi jika kita ingin menerapkan diferensiasi konten, seberapa materi standard dan sebarapa materi pengembangan. Karena kita harus tahu seberapa berkembangya wawasan murid, seberapa kritisnya pola pikir murid dan seberapa pahamnya mereka dengan materi.

3.     Jika saya harus menerapkan hal yang sulit tersebut, saya memerlukan dukungan penuh dari semua pihak seperti dari teman sejawat untuk bersama sama menganalisis hasil pemetaan belajar murid, dukungan dari kepala sekolah untuk bisa mengkondisikan teman teman sejawat dalam rangka mendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi dan dukungan dari orang tua murid dalam mendampingi anak anaknya.

4.   Jika saya menghadapi sebuah situasi, dimana kebutuhan belajar murid saya tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi maka saya akan mengambil resiko untuk memodifikasi pembelajaran sesuai dengan pertimbangan situasi dan kondisi kelas, kondisi psikologis murid, kondisi media yang mendukung dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan untuk bisa memaksimalkan pelayanan terhadap murid dengan berbagai latar belakang minat, gaya belajar dan kesiapan belajarnya, sehingga semua murid bisa terpenuhi kebutuhan belajarnya.

 


Jumat, 05 Februari 2021

Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

1.    Kesiapan belajar (readiness) murid

2.    Minat murid

3.    Profil belajar murid

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

 

1. KESIAPAN BELAJAR (READINESS)

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “Kesiapan Belajar”?

Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.  

            Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda.  Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).

A. Bersifat mendasar - Bersifat transformatif

Saat sebagian murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru, atau jika ide itu bukan di salah satu bidang yang dikuasai oleh murid, mereka sering membutuhkan informasi pendukung yang lebih jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk memahami ide tersebut. Mereka akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide secara langsung. Jika murid berada dalam tingkatan ini, maka bahan-bahan materi yang mereka gunakan dan tugas-tugas yang mereka lakukan harus bersifat mendasar dan disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Di lain waktu, ketika murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka pahami atau berada di area yang menjadi kekuatan mereka, maka dibutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih bersifat transformatif. 

B. Konkret - Abstrak

Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak

C. Sederhana - Kompleks

Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu; yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi.

D. Terstruktur - Open Ended

Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain, murid siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.

E. Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)

Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.

F. Lambat - Cepat

Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari sebuah topik.

 

The Equalizer (Tomlinson)

Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.  Adapun tujuan melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013).

 

2. MINAT MURID

Kita tahu bahwa seperti juga kita orang dewasa, murid juga memiliki minat sendiri. Ada murid yang minat nya sangat besar dalam bidang seni, matematika, sains, drama, memasak, dsb.  Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan diantaranya: 

·       Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;

·        Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;

·  Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;

·       Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.

Ide Minat Belajar

Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan minat diantaranya misalnya:

·    Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari.

·        Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.

·        Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.

·   Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.

·       Membuat model.

 

3. PROFIL BELAJAR MURID

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. 

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil. Menurut Tomlinson (2001), ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:

·         Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.

·         Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.

·         Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik organisator).

·         Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).

·     Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb).

Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

 

 

 

Diagram Frayer Pembelajaran Berdiferensiasi

MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS

ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 3.3 MEWUJUDKAN SEKOLAH SEBAGAI RUMAH KEDUA MELALUI PROGRAM GEMA LIBAS